SIMHA PORANE
Simha Porane, sebuah kota dengan bangunan-bangunan tua berdiri masih terlihat kokoh menahan kota itu, awan merah menghiasi di kala surya tenggelam menambah angker kota tua yang teramat sunyi di kala siang hari dan malam-malamnya begitu gemerlap di sisi-sisi kota dengan penuh peseta-pesta para penghuni kota selalu seperti malam-malam yang panjang. Lampu-lampu yang berkerlap kerlip mewarnai menunjukkan begitu gemerlap malam terasa bergairah dengan musik-musik disko dan wanita-wanita seksi selalu ada menari di panggung dengan pakian yang minim menghibur para pengunjung bar memamerkan betapa kota ini bagaikan taman syurga firdaus yang di penuhi bidadari cantik menemani hingga di penghujung pagi.
Perjudian terlihat begitu bebas kasino-kasino buka dengan tanpa takut untuk di tutup oleh petugas karena di sinilah tulang punggung kota ini untuk tetap berdiri, mengais jutaan Euro permalalamnya dari para pengunjung dari luar daerah yang selalu padat oleh para penggembira yang tentu mereka adalah para pengusaha tua muda yang sangat antusias untuk hidup dalam dunia hiburan malam dan segala perhiasan malamnya.
Tertawa beraroma alkohol bercampur parfume ternama adalah khas aroma kehidupan ini tentunya, dan tampak kurang pas jika tak bersama seorang perempuan cantik dalam pelukan yang selalu menggandeng daengan tersenyum meriah mesra menyegarkan malam-malam yang panjang dengan pakaian yang tentu memamerkan kulit putih bersih dan dada yang padat.
Van Danjoun pengusaha kasino paling besar di kota Simha Porane, dia juga sebagai gubernoor kota itu sudah lama semenjak puluhan tahun lalu. Tampak menyambut para tamu-tamunya dalam kasino yang tentu juga pengusaha dari kota lain yang ingin menginvestasikan kekayan untuk meraih keuntungan yang lebih besar atau menambah semarak kota itu dengan lebih banyak lagi hiburan-hiburan hotel dan segala kesengan yang akan menjadikan kota Simha Porane lebih lengkap seperti taman syurga Firdaus impian para manusia di dunia.
-###-
Hujan deras mengguyur Simha Porane, petir menyambar-nyambar, lampu-lampu Vartage berkedip mebuat angker suwasana kuil itu dengan asesoris bangunan patung-patung para bidadari dan singa yang begitu anggun menatap ke dunia.
“Jorg, tinta persembahan sudah habis siapakah yang akan kita korbankan untuk persembahan mendatang” Evone berbicara berhadapan dengan Jorg di dalm sebuah ruangan yang hanya di terangi lampu yang mengagantung 1 metter di atas meja kayu, tampak asap mengepul dari mulut Jorg menutupi sinaran lampu sesaat asap itu hilang mengepul, yang kemudian tampak Jorg menyundutkan puntung di atas asbak dan masih menyiskan asap.
“Aku sudah menyiapkan copy-an suara Elline supaya orang-orang tidak curiga saat ia menghilang nanti. Kita bisa menjawab telpon dari komputer setiap orang yang menghubungi Elline. Tinggal merencanakan untuk menculikanya supaya orang-orang tidak curiga atau penari lain juga, kita tinggal membuat skenarionya.” Jorg menyelonjorkan kaki di bawah meja sambil relaks.
Malam semakin sunyi saat mereka terus berdiskusi, hujan mereda sampai ke ujung pagi, suasana Simha Porane tetap hidup di dalam kasino-kasino walaupun pagi telah tiba, tempat hiburan mulai sepi, sebagian masih begitu riuh di tempat lain, sebuah kasino yang buka 24 jam dan selalu gelap di penuhi asap rokok beserta aroma perfume maupun minuman.
-###-
Elline sudah tak tahan lagi dengan kejadian-kejadian aneh selama beberpa hari ini, mengingatkan dia kepada kampung halamannya, mengingatkan dia pada ibunya yang menyayanginya dan adiknya Angel yang cantik.
Ia merebahkan diri di atas tempat tidur yang empuk di dalam apartemennya yang luas. Dialah bintang di malam-malam tempat hiburan, dia selalu mendapatkan tawaran kontrak yang tinggi perbulannya hingga dia dapat mengirim uang banyak pada ibu dan adiknya.
Namun Elline tak betah lagi saat ini mimpi yang buruk tentang ibunya, dan beberpa kali ada yang menyelinap kekamar mengejutkan hingga ia takut di bunuh maupun di perkosa oleh psikopat karena kota ini di penuhi oleh psikopat-psikopat tentunya.
“Kota yang tidak normal”. gumamnya.
Pagi masih hujan rintik saat Elline pulang dan kini dia sudah mebersihkan diri untuk tidur.
“Tiitt titt…” hend phone berdering segera Elline mengangkat telponya ternyata Angel menelpon,
“ Hai kakak, kapan bisa pulang ibu sudah rindu ingin bertemu”. Angel belum tahu kalo kakanya adalah penari telangjang yang sangat di gemari oleh para pengunjung hiburan di Simha Porane, karena dulunya Elline berpamitan untuk bekerja sebagai pelayan restoran di Simha Porane sambil berkuliah.
“Hai Angel.. gimana kabar ibu.. aku juga rindu tapi aku belum bisa pulang Adik, gimana sekolah kamu?”. Dengan gembira Elline menyapa adiknya.
-###-
Elline tertidur lelap semua lampu telah dimatikan apartemnnya begitu gelap walaupun siang hari, tak ada jendela hanya beberapa jendela di bagian balkon dari apartennya ada beberpa buah saja hingga apartemen itu tak cukup sinar matahari.
Seseoarng mebayangi tidur Elline, seoran lelaki tegap tinggi dan berpakaian hitam diapun bertopeng hinga tak tampak wajahnya, hati-hati lelaki itu mendekati tubuh Elline di atas ranjang yang empuk dan berselimut sedikit tersibak hingga terlihat lah kaki mulus Elline.
“Hup..’ tampak lelaki bertopeng itu mendekap wajah Elline.
Elline hanya meronta sebentar dan kemudian lunglai tak berdaya.
Lelaki bertopeng itu pun mebungkusnya dengan selimut, dan memasukkanya dalam kantong plastik yang besar yang bisa untuk mebungkus sampah-sampah.
Lelaki itu mengambil ponsel Elline kemudian tampak menelpon orang lain sebentar dan mengntungi ponsel itu.
Bebrapa menit kemudian muncullah beberpa orang dengan seragam cleaning service masuk ke apartemen Elline mereka mengangkat kantung plastik yang besar itu keluar dan mebawanya dengan sebuah mobil box.
Menghilanglah lelaki berpakaian hitam itu dari apartemen Elline saat para cleaning service itu menyaalkan mobil lalu pergi.
-###-
Simha Porane, begitu tenang dengan segala kehidupan yang berjalan, sekan sebuah kota besar yang anggun dengan segala bangunannya, para wisatawan hadir dengan terkesima setiap bangunan yang didirikan begitu megah dan mepesona seakan kota ini penuh dengan sejarah akan ilmu pengetahuan dan rancang bangun.
Sebuah mobil box menuju sebuah lereng pegunungan Simha di atas tebing pinggir lautan Simha di sanalah sebuah kuil Vartage yang sangat angker berdiri di atas lereng yang curam .
Mobil itu berbelok masuk kedalam pekarangan kemudian berhenti tepat di samping kuil.
Rimbunnya pepohonan menutupi kuil ini dari berbagai tempat hingga hanya tampak sebuah menara lonceng yang tempat ini depergunakan untuk memandang laut.
Tampak seseorang muncul dari mobil ia menuju pintu belakang box mobil membukanya mengeluarkan sebauh tas plastik berwarna hitam deangan hati-hati, seseorang lainnya menyusul dari samping mobil dan satu orang lagi dari box mobil dengan seragam cleaning service.
“Tom.. bantu mcDov mengangkat plastik ke ruang bawah!!“ Suruh Evone mengangkat plasti ke ruang bawah.
“Ok.. “ sambil melompat dari box mobil Tom segera membantu McDov mengangkat barang itu ke ruang bawah kuil Vartage.
Dengan hati-hati mereka membawa barang itu ke ruang bawah Kuil dan mebukanya dengan hati-hati pula.
Dikeluarkan sebuah buntalan kain dari dalam plastik kemudian di bukalah kain itu berlahan. Tubuh seorang wanita terkulai lemah dengan pakaian ala kadarnya dan tubuh putih mulus dengan rambut pirang yang ikal ia terpejam. Pintu telah ditutup ruangan itu dan siaplah merka mebuka pakaian Elline kemudian menggantikan pakaian itu denagn pakaian yang telah di sediakan. Sebuah pakian yang tentu juga hanya sebuah bagian penutup dada dan bagian celana perempuan berwarna pink.
Di tidurkan Elline di atas ranjang dengan hati-hati supaya ia tak segera bangun dari pingsannya.
“Hai Elline.. bagaimana kabar kamu?” Tanya Evone kepada Elline setelah menyentuhkan aroma wewangian ke hidung Elline.
“ Uhh dimanakah aku?” Tanya Elline yang baru bangun dari pingsannya.
“Kamu berada dalam rumah kami, kami menculik kamu Elline?” Evone tersenyum .
“Hah kalian menculikku..” Elline menjerit.
“Percuma kamu menjerit Elline, tak kan ada yang mendengar kamu, di sini tak ada orang lain”. Sambut Evone.
“Kami sudah mepersiapkan uang buat kamu, buat pertunjukan kamu malam nanti dalam pesta kami, kami hanya ingin supya kamu tak tahu jalan ke mari” hibur Evone.
“Bye..” Evone menutup pintu dan menguncinya dari luar .
Elline hanya bisa merebahkan diri di atas ranjang dan badannya begitu lemas masih agak ngantuk rupanya dia diam sambil berpikir dan kesal.
“Mengapa mereka mesti menculikku , kalau hanya untuk menari di pestanya mereka malam nanti?” Gumam Elline, Elline berpikir besok mungkin mereka akan mengantar untuk kembali ke apartemen.
-###-
Malam telah tiba Evone dengan pakaian serba hitam masuk ke raungan Elline, di bangunkanlah Elline.
“Elline bangun ! Elline saatnya pertunjukan kamu di pesta kami!”” Suara Evone tampak jelas.
Elline terbangun dan menggeliatkan badannya tanpa dia curiga sedikitpun atas perilaku orang-orang tersebut teradap Elline.
Berjalan Elline beriringan dengan Evone menuju sebuah ruangan utama dari Kuil itu.
Tampak sebuah ruangan yang luas tanpa meja dan kursi hanya sebuah patung singa yang menghadap kearah tengah raungan itu, lantainya tampak licin dan berkilat-kilat terterpa cahaya api. Begitu remang patung singa itu di terangi sinaran obor obor dari pojokan raungan itu.
“Ellinne menarilah saat musik di perdengarkan..”suruh lelaki yang tak di kenal Elline itu.
”Matikan lampu “. lelaki itu berteriak.
Lampu dimatikan gelap ruangan itu tanpa seberkas sinarpun. Musik mulai di perdenagarkan.
Elline merinding mendengar sebuah musik yang di perdengarkan sebauh seruling yang teramat melengking dan mendayu dayu membuat darah Ellin berdesir kencang. Sambil merinding Elline mulai meliuk-liukkan badannya di tengah ruangan. Tampakknya Elline sudah terbiasa dengan tarian telanjang yang erotis dia pun menari .
Menyibakan rambutnya ke sana kemari dia menggerakkan tubuhnya untuk mengikuti musik yang di dengarnya. Dia terus melangkah ke sana kemari sambil meliuk-liukakan badannya di atas lantai dengan sepatu yang bertumit tinggi itu.
Sinaran sebuah lampu yang teramat terang mengikuti gerakan gerakan Elline di atas lantai yang berkilauan. Elline terus mengikuti musik tanpa menghiraukan lampu yang meneranginya.
Di saat itulah Elline tak menyadari, makhluk yang besar memperhatikan tarian Elline di ruangan itu. Makhluk itu berjalan kesana kemari di ruangan yang hanya di batasi oleh sekat jeruji-jeruji besi sehinga makhluk itu tak dapat mendekati Elline. Makhluk itu mendengus dengan penuh nafsu melihat Elline menari-menari. Hingga saat sekat jeruji besi di buka makhluk itu dengan hati-hati mendekat dan memperhatikan gerakan gerakan Elline yang semakin tersihir oleh musik. Hingga makhluk itu melompat dan menerjang Elline.
“Aaaa…….”jerit Elline begitu panik.
Elline terperanjat sebuah makhluk menerjanganya seperti seekor singa, Elline menjerit-jerit berkali kali dan tak seorangpun menolong.
Lampu yang menyoroti Elline pun sudah tak lagi mengikuti gerakan ke mana Elline menghilang. Tingal jeritan-jeritan Elline yang sayup sayup di antara musik yang terus terdengar melengking-lengking . Hilanglah jeritan seorang wanita itu , tak di dengar lagi. Musik pun berhenti, lampu yang menyoroti gerakan Elline telah dimatikan ruangan menjadi gelap, berakhirlah pesta malam ini di Kuil itu .
-###-
“Pagi tuan.. “ Evone masuk keruang kerja Van Danjoun.
Van Danjoun mengangguk menunggu di balik mejanya dan duduk di atas kusrinya yang besar. Asap cerutu mengepul ngepul di tangan dan keluar dari dari mulut hidungnya kemudian asap memenuhi raungan itu.
“Upacara malam nanti siap tuan” terlalu hormat Evone bertutur.
“Ya.. “ sekali lagi Van Danjoun itu mengnaguk bergoyang jenggot lelaki tua gendut itu.
“Beri tahu orang orang kita segera supaya mereka bersiap malam nanti!” Van DAnjoun menyentuhkan cerutu ke asbak di atas meja.
Evone mengeluarkan sebuah bejana dari terbuat dari emas yang berbentuk patung singa kecil.
“Ini Tuan Tinta persembahan untuk tahun ini” Evone mengulurkan tangannya meletakkan patung singa kecil di atas meja.
“Baik pergilah Evone”
Evone segara keluar dari raungan itu,
Van Danjoun menancapkan cerutunya ke dalam asbak, dan berkepulan asap asap sisa cerutu itu. Dia mulai mengeluarkan sebuah buku dari dalam laci meja kerjanya yang besar. Sebuah buku yang sampulnya berukir dan begitu besar buku itu. Mulailah Van Danjoun mebukanya lembaran demi lembran buku itu.
Van DAnjoun mengambil sebuah pena dari atas mejanya. Memasukkannya ke dalam bejana patung singa dan mulailah dia menuliskan tulisan, tulisan berhuruf dan bahasa yang teramat kono ke dalam buku yang sampulnya berukir itu.
Tinta berwarna merah berupa darah dari seorang wanita yang termat cantik yang menjadi idola saat ini dari berbagi tempat hiburan yang ada di kota Simha Porane. Sebejana tinta persembahan dari darah wanita cantik untuk menuliskan takdir dari kota Simha Porane.
-###-
Awan di kaki langit barat mulai memerah tanda hari telah sore , mentari pun tenggelam rembulan yang besar nampak di langit timur dan di mulailah upacara persembahan di Kuil Vartage di atas tebing Simha.
Sebuah sekte mengadakan upacara malam itu, penyembahan terhadap Dewa Porane. Terdiri sekitar ratusan orang datang ke dalam upacara itu. Merka berpakaian hitam, semua memakai penutup warna hitam sehinga tak saling mengenali satu demi satu orang di dalam sekte itu.. Di bacakan mantra-mantra oleh seorang pemimpin sekte di dalam acara itu. Di bagikan minuman anggur dalam upacara persembahan ini.
Malam semakin larut saat upacara itu akan berakhir di keluarkan sebuah meja yang di tutupi kain hitam hinga menyentuh lantai yang terdapat persembahan di atasnya. Dan mulailah mantra terakhir di bacakan oleh seorang pemimpin upacara persembahan itu. Dibukalah kain hitam penutup meja, terdapatlah sesosok wanita telanjang di atasnya.
Memeluk kakinya yang tertekuk dan tampak ia menengadah ke arah atas terpejam wanita itu dengan rambutnya yang di biarkan berderai. Di ambilah sebilah pisau oleh pemimpin upacara persembahan. Diirisnya bagian dada peermpuan itu satu demi satu dan di ambilah buah dadanya ke dalam sebuah mangkuk yang kemudian dia meyingkir, begantian satu demi satu mengiris wanita yang telah matang itu, memasukkan irisannya ke dalam piring mereka masing-masing. Satu demi satu meninggalkan ruangan itu menuju mobil meraka masing-masing meninglkan Kuil lereng Simha.
-#selesai#-
2113 kata benernya pingin di panjangkan lagi tapi uaah males..